Hari Raya Galungan dan Penjor
Hari Raya Galungan diperkirakan
sudah ada di Indonesia sejak abad ke-XI, hal ini didasarkan atas antara lain
Kidung Panji Malat Rasmi dan Pararaton kerajaan Majapahit. Di India perayaan
semacam ini dinamakan hari raya Sraddha Wijaya Dasami. Di Bali sebelum
pemerintahan raja Sri Jayakesunu, perayaan hari raya Galungan pernah tidak
diadakan, oleh karena itu raja-raja pada zaman itu kurang memperhatikan upacara
keagamaan. Hal ini mengakibatkan kehidupan rakyat pada masa itu sangat
menderita, demikian pula para raja yang memegang tampuk pemerintahan umurnya
sangat pendek. Selanjutnya setelah Sri Jayakesunu naik tahta dan memegang
tampuk pemerintahan, maka pada suatu hari beliau bersamadhi di Setra Gandamayu,
memohon petunjuk kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, apa yang patut dilaksanakan
dalam tugasnya sebagai raja dan pemegang kekuasaan demi memperoleh keselamatan
untuk semuanya. Akhimya samadhi beliau berhasil dengan turunnya Bathari Durga
memberikan pewarah yang intinya agar pelaksanaan hari raya Galungan tetap diperingati.
Adapun pewarah tersebut seperti tersurat dalam lontar Jayakesunu yang
kutipannya sebagai berikut :
25a. Nihan kramaning wus ngencak wara, Dungulan ping 3 wenang makekelud sajeroning Dewa, dening ayam mancawarna, prayascita durmanggala mwang sesayut sidasampurna, nanceb penjor. Tekaning Dungulan apisan, wenang mebanten canang pamujung, ajuman, canang burat wangi lengawangi, saha penjor. Teka malih apisan, mabanten nasi sahud sahudan, saha penjor. Tekaning ping telu dungulane wenang ngarebonin, mebanten tumpeng sakarepta wenang, sahanane wenang, nancebang penjor ring diva a, wa, dungulan madaging paholihe ring sawah majonteng kelapa 2, misi sesanganan mwang jejatah, lembat, asem, kakuwung, tekaning sampyan, lamak sahananing iwak Tekaning wara Bu, Ka, wara pahang, nelasan luhun Galungan, mabanten tumpeng mapucuk manik canang, sami munggah ring sanggar, raris ngabut penjor, mangeseng lamak, raris matanem ring natar. Telas.
Artinya :
Adapun tata cara bagi orang yang meninggalkan hari Dungulan
(Galungan) tiga kali berturut-turut, dapat melaksanakan upacara makekelud di
lingkungan Pura, dengan ayam lima warna, prayascita durmanggala, sesayut
sidasampurna, mendirikan penjor. Bila tiba Dungulan pertama, dapat menghaturkan
banten canang pamujung, ketipat, canang burat wangi lenga wangi, disertai
dengan penjor. Bila tiba Dungulan kedua, menghaturkan nasi sahu-sahudan
disertai dengan penjor. Bila tiba Dungulan ketiga, dapat menghaturkan upacara
Ngarerebonin yaitu dengan menghaturkan banten tumpeng yang dapat dilaksanakan
sesuai dengan keinginan (keadaan), mendirikan penjor pada hari Selasa Wage
Dungulan, berisi hasil sawah, kelapa dua butir, kue, sate lembat, sate asem,
kekuwung, disertai sampyan, lamak dan segala jenis ikan. Pada hari Buda Kliwon
Pahang, membersihkan sampah Galungan, menghaturkan tumpeng mapucuk manik canang
yang semuanya diletakkan pada sanggar, dilanjutkan dengan mencabut penjor,
membakar lamak selanjutnya ditanam di tengah pekarangan rumah.
22a. Muang ia kita anakku, kita abyakala, tekaning wadwa nira swang rikala
Kala telu ring Dungulan lwirnya : Dungulan 1, sgeha penek 5, iwak jajatah, 5
katih, gegecok rumbah Bile, sasah mentah, pencok kacang ijo, amel-amel, iwak
sinujen wakul, gangana sakawali. Genahang caru lengahing natar, sambatin Sang
Bhuta nadah, ma. Om Kaki Bra Galungan Bhatara Kala Bhatara Jabung, Bhatara Kala
Amangkural, Sang kala Enjer Sang yamaraja, Kaki Sang Kala nadah, aywa nadah
punanu, apan pun anu, samakira, angion kararon tkalawan sira, pun anu sih
asanak kalawan sira, sira asih asanak ring pun anu, wruh ring rupa warnanira,
tan akuning tan airing sedeng bang-bang awak adegira tan andap, tan aluhu,
sedeng pasagi, romanira tan akasalemes, sedeng kumembang waru, sampun denira
nadah ring pun anu, bedikan sira angluwarana sakeling rogan ipun, papa klese
sangut sangkala dandapradewa, ujar ala ipun ala, asunga nugraha rahayu urip
waras, dirgayusa paripurna, teguh timbul bujanakulit, akulit tembaga awalung
wesi, aotot kawat, luput ring jaramarana wattu den kadi pangraksa nireng sira
Ajikusunu, mangkana pangarsaha nira pun anu, raksane ning saba paran ipun ring
esuk lawan sore, rahina kalawan wengi. Om nama sivaya namah.
Lagi anakku, engkau hendaknya melaksanakan upacara Byakala, sampai
dengan rakyatmu masing-masing, pada saat jatuhnya Kala Tiga Dungulan dengan
upakara yang terdiri dari : dangdang 1, segeha penek 5, sate 5 batang, gecok
rumah gile, masak mentah, pencok kacang ijo, amel-amel, ikan dalam wakul, sayur
satu kuali. Caru di tengah halaman rumah, sama sama makan di tengah pekarangan,
dan Sang Bhuta dipanggil agar menyantap suguhan dengan mantra : Om Kaki Bra
Gahingan, Bhatara Kala, Bhatara Jabung, Bhatara Kala Amangkurat, Sang Kala
Enjer, Sang Kala Yamaraja, Kaki Sang Kala nadah, janganlah memakan si Anu,
karena si Anu saudaranya tetapi memisahkan diri darinya, si Anu kasih
bersaudara dengannya, ia kasih bersaudara dengan si Anu, tahu akan rupa dan
waranya yang tiada kung tiada hitam, sedang kemerah-merahan, badannya tidak
pendek tidak tinggi, sedang-sedang, rambutnya tidak kaku, tidak halus,
sedang-sedang sebagai kembang sepatu, setelah engkau makan syukuran si Anu,
kurangilah dosa-dosanya yang menimpa seluruh jasmaninya, dan hindarkanlah
mereka dari segala dosa dan kutukan, jika berkata benar maka benarlah dia,
berilah kerahayian, sehat, panjang umur, kesempurnaan, kekebalan dengan baju
kulit seperti berkulit tembaga, bertulang besi berotot kawat, terhindar dari segala
sakit, semoga sebagai penjaga beliau Sri Jayakesunu, demikianlah penjagaan
beliau terhadap si Anu, jagalah is selalu, balk pagi maupun sore, siang dan
malam. Ya Tuhan semoga berhasil atas nama Ciwa.
Berkaitan dengan hari Galungan, pada sebuah relief kuno didinding cagar budaya Yeh Pulu, diuraikan bahwa : mitologi tentang terbunuhnya Ki Maya Danawa oleh Dewa Indra. Kematian tragis yang dialami oleh tokoh ilmu hitam Maya Danawa itu, dimana kepalanya terpenggal oleh senjata Dewa Indra, kaki dan tangannya terpotong-potong, dengan demikian barulah Ki Maya Danawa dapat dipastikan sudah mati. Untuk memperingati peristiwa kemenangan itu diselenggarakan upacara memperingati kematian Ki Maya Danawa disebut Hari Galungan, yang artinya dipenggal. Tujuannya agar seluruh umat tidak boleh lagi mengikuti ajaran-ajaran sesat yang pernah ada di Bali. Menurut catatan sejarah peristiwa itu terjadi di zaman pemerintahan era Kesari Warmadewa yang memerintah di Bali sekitar tahun Caka 837 (Atmaja, 2008: 4).
Konsep Hari Raya Galungan
Menurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang. Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan rasa terima kasih ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat berbahagia dan bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini. Yang terpenting, dalam pelaksanaan upakara pada hari-hari raya itu adalah kesungguhan niat dalam batin. Dalam rangkaian peringatan Galungan, pustaka-pustaka mengajarkan bahwa sejak Redite Pahing Dungulan umat manusia didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu : mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut :
1. Hari pertama merupakan hari
turunnya Sang Bhuta Galungan. Galungan berarti berperang/bertempur. Berdasarkan
penjelasan ini, boleh diartikan bahwa pada hari Rudite Pahing Dungulan umat
manusia baru kedatangan bhuta (kala).
2.
Hari kcdua adalah turunnya Sang
Bhuta Dungulan. Ia mengunjungi umat manusia pada hari Soma Pon Dungulan
keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan,
3. Hari ketiga adalah turunnya
Sang Bhuta Amangkurat yaitu pada Anggara Wage Dungulan. Amangkurat artinya
menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia
kecil ialah badan itu sendiri (Bhuwana Alit). Singkatnya mula-mula umat manusia
diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi,
keletehan benar-benar akan menguasai manusia, bila manusia pasif saja kepada
serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada
hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan.
Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta
(keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan
metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu (Wiana "Hari Raya
Galungan dan Kuningan", dalam Warta Hindu Dharma No.5 Tahun I - 1996).
Menurut lontar Jayakasunu, pada hari
Galungan itu Ida Sang Hyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan
kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan
keletehan dari hati masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu,
maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira
dengan penuh rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah
tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari
Sugi Manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan
Kuningan (Sri Arwati "Riwayat Galungan" dalam Warta Hindu Dharma
Nomor 345 Purnama Kapitu, Januari 1996).
Persembahan dihaturkan ke hatapan
Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah
parhyangan, di atas tempat tidur, di halaman, di lumbung, di dapur, di tugu
(tumbal), di bangunan-bangunan rumah dan lain-lain. Seterusnya di Kahyangan
Tiga, di Pengulun Setra (Prajapati), kepada Dewi Laut (Samudera) Dewa Hutan
(Wana Gin) di perabot-perabot/alat-alat rumah tangga dan sebagainya.
Widhi-widhananya untuk di
Sanggah/parhyangan ialah tumpeng penyajaan, wewakulan, canang raka, sedah wok
penek ajuman, kembang payas serta wangi-wangian dan pesucian. Untuk di
persembahyangan (piasan) dihaturkan tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan serta
dengan pelengkapnya. Lauk pauknya sesate babi dan daging goreng, daging itik
atau ayam, dibuat rawon dan sebagainya. Selesai menghaturkan upacara dan
upakara tersebut kemudian menghaturkan segehan tandingan sebagaimana biasanya,
untuk pelaba-pelaba kepada Sang Para Bhuta Galungan, sehingga karena gembiranya
mereka lupa dengan kewajiban-kewajibannya mengganggu dan menggoda ketentraman
batin manusia. Hari Raya Galungan terlaksana dengan aman dan diliputi oleh
suasana suci hening, mensyukuri limpahan kemurahan Ida Sanghyang Widhi untuk
keselamatan manusia dan seisi dunia. Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan
(hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara
turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karunia-Nya berupa kebutuhan pokok
tersebut. Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan
sesajensesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep sebagai manusia
(umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan
yang semuanya itu dilimpahkan kepada umat-Nya atas dasar cinta-kasihnya. Di
dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah
wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita
semua (Galungan dalam http://www.babadbali,com, yang diakses pada tanggal 30
September 2009).
Adanya perkembangan teknologi yang
semakin canggih maka hari Galungan dan Kuningan tidak saja dikenal di Bali
bahkan di Indonesia dan juga di seluruh duniapun sudah dikenal. Hal ini
terbukti dengan masuknya informasi ke setiap rumah masing-masing penduduk di
dunia, seperti terdapat pada internet sebagai berikut :
Galungan Day is celebrated every Buda Klion Dunggulan, Galungan Day has a meaning "Pawedalan Jagat" or the arth's celebration. On this day the Hindus thank the God for the creation of the arth and its content On this day the Hindus feel grateful for His blessing.
Artinya :
Hari Galungan yang sudah terkenal dirayakan tiap-tiap Budha Kliwon Dunggulan. Hari Suci Galungan mempunyai anti Pawedalan Jagat atau penghormatan kepada abumi. Pada hari ini umat Hindu menyampaikan terimakasih kepada Tuhan atas ciptaan dan segala isi slam semesta. Pada hari ini pula umat Hindu menyampaikan puji syukur atas rakhmatnya. (Description of Galungan and Kuningan Day Email information@visionbali.com(6230361 243486, Bali directory), dalam Atmaja (2008: 1).
Selain uraian Galungan seperti di
atas, terdapat juga yang disebut Galungan Naramangsa (Hasil Paruman Sulinggih
1990-1998 : 21-23), adalah hari raya Galungan yang mempunyai semangat agak
bertentangan dengan hari raya Galungan lainnya yaitu hari Galungan Biasa dan
hari raya Galungan Nadi (yang bertepatan dengan bulan Purnama). Kata naramangsa
berasal dari bahasa Sansekerta yaitu nara berarti orang laki dan mangsa berarti
daging. Kalau dianukaryakan kata mangsa menjadi memangsa artinya makan daging
sehingga kata nara mangsa mempunyai makna pemakan orang. Pemakan daging orang
adalah raksasa atau Bhuta Kala. Jadi Galungan Nara Mangsa dapat juga disebut
Galungan raksasa atau Galungan Rau, maksudnya hari yang cocok untuk
melaksanakan Bhuta Yadnya, bukan merayakan Dewa Yadnya seperti hari raya
Galungan lainnya (Atmaja, 2008: 6).
Jadi pengertian hari raya suci Galungan adalah merayakan keselamatan dalam menjalankan kehidupan di dunia ini, karena segala yang ditanam dapat tumbuh dan menghasilkan sandang papan dan pangan. Maka wajiblah umat manusia mengucapkan puji syukur dengan mempersembahkan yang disebut Yadnya atas hasil-hasil yang diperoleh (pala bungkah-pala gantung), kepada leluhur yang menyediakan warisan baik berupa tanah yang digarap maupun berupa petunjuk-petunjuk dalam menggarap lahan, Dihubungkan dengan masuknya pengaruh ajaran siwa (Tuhan ada di manamana) yang dikembangkan oleh Sang Kulputih (dalam Usana Bali) diperkuat oleh Majahit yang disimbolisasikan dewa Indra, melawan Mayadenawa, yang menganut ajaran Budha (yang menyatakan Dewa ada dalam diri). Pada akhirnya aliran Siwa dan Budha menyatu di Bali, peperangan itu diperingati di Bali sebagai dharma melawan adharma (kebaikan melawan keburukan). Jadi masing-masing agama dapat melakukan ibadahnya sesuai dengan kepercayaannya dan hidup saling berdampingan, Perayaan hari suci Galungan dan Kuningan berlangsung selama satu bulan Bali ditambah 7 hari (selama 42 hari) diperkirakan sudah ada pada abad ke-IX, Kuningan merupakan pernyataan terakhir apakah dharma mampu mengalahkan adharma atau sebaiknya adharma yang menang melawan dharma pada setiap individu, jika terjadi Galungan Naramangsa maka pelaksanaan Galungan ditiadakan seperti : tidak memotong hewan babi diganti dengan umbi-umbian, tidak membuat penjor, artinya pelaksanaan Galungan masyarakat dinyatakan dalam keadaan prihatin (krisis) (Atmaja,a 2008: 9).
Penjor Galungan
Pengertian Penjor
Penjor menurut Simpen dalam Atmaja, (2008 : 9) menjelaskan bahwa kata penjor yang berasal dari kata penyor yang maksudnya adalah penjor. Selanjutnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994 : 748) dalam Atmaja, (2008 : 9), penjor atau penyor adalah dari bahasa Bali yang artinya hiasan dari bambu (dari pangkal sampai ujung yang dihiasi dengan daun kelapa muda dan sebagainya). Masyarakat mengenal 2 (dua) jenis penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Penjor sakral merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya pada upacara Galungan, Piodalan di Pura-Pura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dan lain-lain. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan, dan lain-lain. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan, dan lain-lain.
Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana (2000 : 96) dalam Atmaja (2008 : 10) dimana kata Penjor berasal dari kata Penjor, yang dapat diberikan arti sebagai, Pengajum atau Pengastawa, kemudian kehilangan huruf sengau, Ny menjadilah kata benda sehingga menjadi kata, Penyor yang mengandung maksud dan pengertian, sebagai sarana untuk melaksanakan pengastawa Penjor Galungan ditancapkan pads hari Selasa Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke Utara maka penjor ditancapkan pada sebelah Timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan.
Bahan Penjor
Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), pala gantung (misalnya kelapa, mentimun. pisang, nanas, dan lain-lain), palawija (seperti jagung, padi, dan lain-lain), jajan, serta sanggah Ardha Candra yaitu sanggah yang dibuat dari bamboo dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bulat sabit lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan. Tujuan pemasangan penjor adalah sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain adalah merupakan wakil-wakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa. Penjor Galungan adalah penjor yang bersifat religius, yaitu mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan, dan wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya. Dilihat dari segi bentuk penjor merupakan lambang Pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Hiasan-hiasan adalah merupakan berjenis-jenis daun seperti daun cemara, andong, paku pipid, pakis aji dan lain-lain. Untuk buah-buahan mempergunakan padi, jagung, kelapa, ketela. pisang termasuk pala bungkah, pala wija dan pala gantung, serta dilengkapi dengan jajan, tebu dan uang. Oleh karena itu, membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja, namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama, sehingga tidak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan simbol-simbol suci, sebagai landasan pengaplikasian ajaran Weda, sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama (Atmaja, 2008 : 8-11).
Unsur-Unsur Penjor
Unsur-unsur pada penjor merupakan
simbol-simbol sebagai berikut : 1)
Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara, 2)
Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma, 3) Kelapa sebagai simbol
kekuatan Hyang Rudra, 4) Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa, 5) Daun-daunan (plawa) sebagai
simbol kekuatan Hyang Sangkara, 6) Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol
kekuatan Hyang Wisnu, 7) Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu, 8) Sanggah
Ardha Candra sebagai simbol kekuatan Hyang Siwa dan 8) Upakara sebagai simbol
kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa (Manik "penjor Galungan"
dalam http://www.parisada.org, ).
Manik.2008.
"Penjor Galungan" (Akses tanggal 28 September 2009). Tersedia dalam
URL : http://www.parisada.org.
Sri Arwati,
Ni Made. 1996. "Riwayat Galungan" (Warta Hindu Dharma Nomor 345,
Purnama Kapitu, Saka 1917,TH.XXVII, Januari 1996). Denpasar Parisada Hindu
Dharma Indonesia Pusat.
Wiana, I
Ketut. 1996. "Hari Raya Galungan dan Kuningan" (Pustaka Hindu Raditya
Nomor 5 Tahun 1-1996). Denpasar : Yayasan Manik Geni Dharma Sastra).
![]()
Komentar
Posting Komentar