SERVANT LEADERSHIP (KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI)
1. Definisi Servant Leadership
Kepemimpinan yang melayani atau servant leadership
adalah konsep yang diperkenalkan oleh Robert K. Greenleaf pada tahun 1970
yang kemudian menjadi salah satu pendekatan kepemimpinan yang paling banyak
dibahas dalam literatur kepemimpinan modern. Konsep ini lahir dari keyakinan
bahwa pemimpin yang efektif adalah mereka yang memulai perannya dengan niat
untuk melayani, bukan untuk memimpin. Greenleaf menekankan bahwa pelayanan
kepada orang lain harus menjadi prioritas utama sebelum seorang individu
mengklaim dirinya sebagai seorang pemimpin. Hal ini menggeser paradigma
tradisional yang lebih menitikberatkan pada kekuasaan dan otoritas dalam
kepemimpinan. Dalam model kepemimpinan yang melayani, kekuasaan dilihat sebagai
sarana untuk mendukung dan memajukan kesejahteraan orang lain, bukan sebagai
tujuan akhir. Ini berarti bahwa seorang pemimpin yang melayani harus memiliki
motivasi yang kuat untuk membantu orang lain tumbuh dan berkembang, baik secara
profesional maupun pribadi.
Selanjutnya, Greenleaf mengartikulasikan bahwa
kepemimpinan yang melayani melibatkan pengembangan hubungan yang mendalam
dengan bawahan. Pemimpin yang melayani harus berkomitmen untuk memahami
kebutuhan dan aspirasi individu yang dipimpinnya, dan bekerja keras untuk
memastikan bahwa kebutuhan tersebut terpenuhi. Hal ini membutuhkan kepekaan
sosial yang tinggi dan kemampuan untuk berempati dengan orang lain. Dalam
banyak kasus, pemimpin yang melayani harus mampu mengenali kebutuhan yang
mungkin tidak diungkapkan secara langsung oleh bawahannya, dan mengambil
langkah proaktif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan demikian,
kepemimpinan yang melayani menekankan pendekatan yang humanistik, di mana fokus
utama adalah pada kesejahteraan anggota tim dan bukannya pada pencapaian tujuan
pribadi atau organisasi semata.
Servant
Leadership adalah pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan
kepentingan publik di atas kepentingan pribadi pemimpin, dengan fokus pada
pemberdayaan masyarakat melalui sikap melayani, empati, dan keadilan. Dalam
pendekatan ini, seorang pemimpin tidak sekadar memberi perintah, tetapi juga
mendengarkan, memahami kebutuhan rakyat, dan aktif dalam mengatasi masalah
masalah yang dihadapi oleh Masyarakat ( Bratasena, 2023).
Kepemimpinan yang melayani juga mengharuskan
pemimpin untuk menjadi contoh bagi anggotanya. Mereka tidak hanya memberikan
perintah, tetapi juga menunjukkan dengan tindakan mereka sendiri bagaimana
nilai-nilai yang mereka anut dapat diterapkan dalam praktik sehari-hari. Dalam
konteks ini, pemimpin yang melayani harus memiliki integritas yang tinggi dan
mampu menunjukkan konsistensi antara kata dan perbuatan. Hal ini penting karena
bawahan cenderung menilai pemimpin mereka berdasarkan perilaku nyata, bukan hanya
kata-kata. Oleh karena itu, pemimpin yang melayani harus menjaga integritasnya
dalam setiap situasi, dan memastikan bahwa tindakan mereka selalu mencerminkan
nilai-nilai yang mereka ajarkan kepada bawahannya.
Dalam
menyukseskan kepemimpinan dalam organisasi, pemimpin perlu memikirkan dan
memperlihatkan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan kepada pegawainya. Gaya
kepemimpinan atasan dapat mempengaruhi kesuksesan pegawai dalam berprestasi,
dan akan berujung pada keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya (Luis Marnisah. 2019).
Menurut
Spears (2002:255), pemimpin yang melayani (Servant Leadership) adalah seorang
pemimpin yang mengutamakan pelayanan, dimulai dengan perasaan alami seseorang
yang ingin melayani dan untuk mendahulukan pelayanan. Selanjutnya secara sadar,
pilihan ini membawa aspirasi dan dorongan dalam memimpin orang lain.
Menurut
Trompenaars dan Voerman (2010:3), Servant Leadership adalah gaya manajemen
dalam hal memimpin dan melayani berada dalam satu harmoni, dan terdapat
interaksi dengan lingkungan. Seorang servant leader adalah seseorang yang
memiliki keinginan kuat untuk melayani dan memimpin, dan yang terpenting adalah
mampu menggabungkan keduanya sebagai hal saling memperkuat secara
positif.
Menurut
Poli (2011), Servant Leadership adalah proses hubungan timbal balik antara
pemimpin dan yang dipimpin dimana di dalam prosesnya pemimpin pertama-tama
tampil sebagai pihak yang melayani kebutuhan mereka yang dipimpin yang akhirnya
menyebabkan ia diakui dan diterima sebagai pemimpin.
Menurut
Vondey (2010), Servant Leadership merupakan seorang pemimpin yang sangat peduli
atas pertumbuhan dan dinamika kehidupan pengikut, dirinya serta komunitasnya,
karena itu ia mendahulukan hal-hal tersebut daripada pencapaian ambisi pribadi
(personal ambitious) dan kesukaannya semata.
Selain itu, kepemimpinan yang melayani juga
menekankan pentingnya kepercayaan dalam hubungan antara pemimpin dan bawahan. Wirawan, (2013)
berpendapat bahwa tanpa adanya kepercayaan, sulit bagi pemimpin untuk
mempengaruhi dan menginspirasi orang lain. Kepercayaan ini tidak bisa dibangun
dalam semalam, tetapi harus dikembangkan secara konsisten melalui tindakan yang
menunjukkan kejujuran, transparansi, dan ketulusan. Oleh karena itu, pemimpin
yang melayani harus membangun kepercayaan ini melalui sikap terbuka,
transparansi, dan ketulusan dalam interaksinya dengan bawahan. Kepercayaan ini
pada gilirannya akan menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan produktif,
di mana anggota tim merasa didukung dan termotivasi untuk memberikan yang
terbaik.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa definisi
kepemimpinan yang melayani tidak hanya terbatas pada hubungan antar-individu,
tetapi juga mencakup tanggung jawab sosial yang lebih luas. Pemimpin yang
melayani diharapkan untuk tidak hanya memperhatikan kesejahteraan individu
dalam organisasinya, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan komunitas
yang lebih besar. Ini bisa diwujudkan melalui tindakan yang mempromosikan
keadilan sosial, perlindungan lingkungan, dan partisipasi aktif dalam kehidupan
komunitas. Dengan demikian, kepemimpinan yang melayani menawarkan pendekatan
kepemimpinan yang komprehensif, di mana pemimpin berfungsi sebagai pelayan bagi
anggotanya dan masyarakat luas. Model ini menekankan bahwa kesuksesan sejati
seorang pemimpin tidak hanya diukur dari pencapaian organisasi, tetapi juga
dari dampak positif yang mereka buat dalam kehidupan orang lain dan komunitas
yang lebih luas.
2.
Karakeristik Servant
Leadership
Menurut
Spears (2002:27-29), terdapat sepuluh karakteristik Servant Leadership,
yaitu sebagai berikut:
1)
Mendengarkan (Listening). Servant-leader
mendengarkan dengan penuh perhatian kepada orang lain, mengidentifikasi dan
membantu memperjelas keinginan kelompok, juga mendengarkan suara hati dirinya
sendiri.
2)
Empati (Empathy). Pemimpin yang melayani adalah
mereka yang berusaha memahami rekan kerja dan mampu berempati dengan orang
lain.
3)
Penyembuhan (Healing). Servant-leader mampu
menciptakan penyembuhan emosional dan hubungan dirinya, atau hubungan dengan
orang lain, karena hubungan merupakan kekuatan untuk transformasi dan
integrasi.
4)
Kesadaran (Awareness). Kesadaran untuk memahami
isu-isu yang melibatkan etika, kekuasaan, dan nilai-nilai. Melihat situasi dari
posisi yang seimbang yang lebih terintegrasi.
5)
Persuasi (Persuasion). Pemimpin yang melayani
berusaha meyakinkan orang lain daripada memaksa kepatuhan. Ini adalah satu hal
yang paling membedakan antara model otoriter tradisional dengan servant
leadership.
6)
Konseptualisasi (Conceptualization). Kemampuan
melihat masalah dari perspektif konseptualisasi berarti berfikir secara jangka
panjang atau visioner dalam basis yang lebih luas.
7)
Kejelian (Foresight). Jeli atau teliti dalam
memahami pelajaran dari masa lalu, realitas saat ini, dan kemungkinan
konsekuensi dari keputusan untuk masa depan.
8)
Keterbukaan (Stewardship). Menekankan keterbukaan
dan persuasi untuk membangun kepercayaan dari orang lain.
9)
Komitmen untuk Pertumbuhan (Commitment to the Growth
of People). Tanggung jawab untuk melakukan usaha dalam meningkatkan
pertumbuhan profesional karyawan dan organisasi.
10)
Membangun Komunitas (Building Community).
Mengidentifikasi cara untuk membangun komunitas.
3. Indikator dan Ciri-ciri Servant Leadership
Menurut
Dennis (2004), Servant Leadership dapat diukur melalui Servant Leadership
Assement Instrument (SLAI). Berdasarkan hal tersebut indikator Servant
Leadership adalah sebagai berikut:
1)
Kasih Sayang (Love). Kepemimpinan yang mengasihi
dengan cinta atau kasih sayang. Cinta yang dimaksud adalah melakukan hal yang
benar pada waktu yang tepat untuk alasan dan keputusan yang terbaik.
2)
Pemberdayaan (Empowerment). Penekanan pada kerja
sama yaitu mempercayakan kekuasaan pada orang lain, dan mendengarkan saran dari
followers.
3)
Visi (Vision). Arah organisasi dimasa mendatang
yang akan dibawa oleh seorang pemimpin. Visi akan mengispirasi tindakan dan
membantu membentuk masa depan.
4)
Kerendahan Hati (Humility). Menjaga kerendahan
hati dengan menunjukkan rasa hormat terhadap karyawan dan mengakui kontribusi
karyawan terhadap tim.
5)
Kepercayaan (Trust). Servant-leader adalah
orang-orang pilihan yang dipilih berdasarkan suatu kelebihan yang menyebabkan
pemimpin tersebut mendapatkan kepercayaan.
3. Konsep
Dasar Teori Kepemimpinan yang Melayani
Konsep dasar kepemimpinan yang melayani
didasarkan pada beberapa elemen utama yang menjadikannya unik dan berbeda dari
pendekatan kepemimpinan lainnya. Salah satu elemen kunci dari kepemimpinan yang
melayani adalah mendengarkan secara aktif. Mendengarkan aktif adalah kemampuan
untuk mendengar dengan tujuan memahami sepenuhnya apa yang disampaikan oleh
orang lain, termasuk perasaan dan kebutuhan yang mungkin tersembunyi di balik
kata-kata mereka. Pemimpin yang melayani harus mampu mendengarkan bawahannya
dengan penuh perhatian, memahami kebutuhan dan kekhawatiran mereka, serta
memberikan respons yang tepat. Ini berbeda dari gaya kepemimpinan otoritatif
yang cenderung memberikan perintah tanpa mempertimbangkan masukan dari bawahan.
Dalam kepemimpinan yang melayani, mendengarkan adalah alat penting untuk
membangun hubungan yang kuat dan saling percaya.
Empati juga merupakan elemen penting dalam
kepemimpinan yang melayani. Empati adalah kemampuan untuk merasakan dan
memahami perasaan serta perspektif orang lain, dan meresponsnya dengan cara
yang sesuai. Pemimpin yang melayani harus mampu merasakan apa yang dirasakan
oleh anggotanya, menempatkan diri mereka dalam posisi orang lain, dan
menunjukkan kepedulian yang tulus terhadap kesejahteraan mereka. Empati ini
membantu pemimpin untuk membangun hubungan yang lebih kuat dan mendalam dengan
bawahan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan loyalitas dan komitmen
terhadap organisasi. Dengan memiliki empati, pemimpin dapat lebih memahami
tantangan yang dihadapi oleh bawahannya dan menyediakan dukungan yang
diperlukan untuk membantu mereka mengatasi hambatan tersebut.
Selain empati, elemen lain yang tidak kalah
penting adalah penyembuhan. Penyembuhan dalam konteks kepemimpinan yang
melayani mengacu pada kemampuan pemimpin untuk membantu bawahan mereka pulih
dari kegagalan, stres, atau pengalaman negatif lainnya. Ini bisa dilakukan
melalui dukungan emosional, pemberian kesempatan untuk belajar dari kesalahan,
dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan pribadi dan
profesional. Dengan menyediakan ruang untuk penyembuhan, pemimpin dapat
membantu anggotanya untuk kembali produktif dan termotivasi. Hal ini penting
karena kesejahteraan emosional dan psikologis anggota tim memiliki dampak
langsung terhadap produktivitas dan kualitas kerja mereka.
Kesadaran adalah elemen lain yang mendasar
dalam konsep kepemimpinan yang melayani. Kesadaran yang dimaksud di sini adalah
kesadaran diri dan kesadaran sosial. Pemimpin yang melayani harus memiliki
kesadaran yang tinggi terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan di
sekitarnya. Kesadaran ini memungkinkan pemimpin untuk memahami dampak dari
tindakan mereka terhadap orang lain dan membuat keputusan yang lebih bijaksana.
Dalam konteks organisasi, kesadaran ini juga mencakup pemahaman tentang dinamika
kelompok, budaya organisasi, dan tantangan yang dihadapi oleh anggota tim.
Kesadaran ini membantu pemimpin untuk lebih responsif terhadap kebutuhan
organisasional dan individu, serta membuat keputusan yang lebih tepat dan
beretika.
Konsep dasar kepemimpinan yang melayani juga
mencakup pengembangan komunitas. Pengembangan komunitas dalam kepemimpinan yang
melayani bukan hanya tentang menciptakan lingkungan kerja yang mendukung,
tetapi juga tentang membangun hubungan yang erat dan bermakna antara anggota
tim. Pemimpin yang melayani berusaha untuk menciptakan dan memelihara komunitas
yang inklusif di mana setiap anggota merasa dihargai dan memiliki kesempatan
untuk berkontribusi. Ini bisa diwujudkan melalui pendekatan kolaboratif dalam pengambilan
keputusan, pemberdayaan anggota tim, dan promosi nilai-nilai kebersamaan dan
solidaritas. Dengan membangun komunitas yang kuat, pemimpin yang melayani dapat
menciptakan lingkungan kerja yang mendukung produktivitas, inovasi, dan
kepuasan kerja. Pembangunan komunitas yang solid juga memperkuat rasa memiliki
dan tanggung jawab bersama dalam mencapai tujuan organisasi.
Komentar
Posting Komentar